Karangkobar ‘Kecamatan Kambing’ PDF Cetak Surel
Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 
Ditulis oleh Admin2   
Kamis, 26 May 2011 05:44

Karangkobar pantas disebut sebagai “Kecamatan Kambing”. Julukan progresif ini diberikan Bupati Drs. Ir. Djasri, MM, MT kepada Kecamatan Karangkobar dalam kunjungan kerjanya ke Desa Pagerpelah, pecan lalu. Menurutnya, julukan tersebut pantas disematkan kepada Kecamatan Karangkobar karena jumlah ternak kambing di wilayah kecamatan Karangkobar sudah melebihi jumlah penduduknya.

Kondisi sampai dengan tanggal 31 Desember tahun 2010 lalu jumlah penduduk 30.421 jiwa, sedangkan jumlah ternak kambing mencapai 32.823 ekor. Jadi ada selisih 2.402” katanya.

Julukan tersebut, lanjut Djasri, juga didukung dengan peta persebaran kambing di wilayah kecamatan Karangkobar dimana dari 13 desa hanya ada dua desa yaitu Leksana dan Karangkobar yang jumlah kambingnya kalah dengan jumlah penduduk. Selain itu, lanjutnya, usaha ternak kambing ini juga diakui oleh masyarakat telah memberikan sumbangan yang berarti bagi peningkatan kemakmuran mereka. “Usaha peternakan kambing ini juga sangat bersinergis dengan usaha budidaya pertanian yang dijalankan oleh masyarakat karena air kencing dan kotoran kambing bermanfaat untuk pupuk tanaman” katanya.

Drs. Agus Kusuma, MM, Camat Karangkobar menambahkan upaya mengembangkan Karangkobar sebagai sentra ternak kambing di Banjarnegara merupakan salah prioritas pemerintah kecamatan. Pengembangan usaha ternak kambing ini akan menjadi motor bagi keinginannya mewujudkan Karangkobar sebagai sentra Agribisnis.

Menurutnya, pengembangan usaha peternakan kambing ini mempunyai sejumlah keuntungan dan mempunyai potensi yang besar untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Beberapa keuntungan beternak kambing yaitu keuntungan modal dari bisnis yang dikembangkan, keuntungan pupuk dari kotoran ternak, dagingnya untuk konsumsi, dan kulitnya untuk kerajinan.

Selain itu, lanjut Agus, hijauan pakan ternak yang ditanam juga dapat berfungsi sebagai penahan erosi tanah dan susu kambing yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk peningkatan protein masyarakat. Meski belum banyak dimanfaatkan, lanjutnya, susu kambing mempunyai prospek yang bagus. “Ke depan kita juga sedang menjajagi peningkatan nilai produksi susu kambing dengan menjadikanya sebagai bahan baku permen” katanya.

Sementara itu, menurut Kades Pagerpelah Sutoyo menjelaskan jenis kambing yang diusahakan warganya pada umumnya merupakan jenis lokal Jawa Randu dan Peranakan Etawa. Adapun macam usahanya yaitu pembibitan, pemacek, pembesaran dan penggemukan. Pemanfaatan susu kambing, lanjutnya, masih dilakukan untuk konsumsi terbatas.

Pada umumnya, selain untuk konsumsi keluarga susu kambing dimanfaatkan untuk keperluan khusus misalnya untuk obat suatu penyakit. Padahal susu kambing etawa ini mempunyai nilai ekonomis tinggi per liternya dapat mencapai Rp 20 ribu. Untuk satu indukan mampu menghasilkan kurang lebih 3,5 – 4 ltr susu per harinya. “Susu kambing yang baik dihasilkan oleh Peranakan Etawan Super yang rata-rata harganya di atas 10 juta rupiah” katanya.

Untuk Pagerpelah, lanjutnya, sampai pertengahan Januari kemarin perbandingan jumlah penduduk dengan kambing mencapai separoh lebih. “Jumlah KK 539 dengan jumlah jiwa mencapai 2.098 jiwa. Sementara jumlah ternak kambing mencapai 5.021 ekor” katanya.

Potensi Putaran Modal Besar

Menurut Sutoyo yang juga peternak kambing ini, harga satu kambing Peranakan Etawa ini dapat mencapai angka fantastis. Untuk anakan kambing yang masih berusia empat bulan saja sudah dihargai sampai 5 juta rupiah. “Untuk kualitas terbaik harga anakkan kambing atau cempe peranakan etawa ini sudah berkisar pada angka 15 jutaan” katanya.

Nilai harga kambing hasil produksi desa Pagerpelah yang pernah terjual paling tinggi diharga sampai Rp 30 juta. Sedangkan harga turunannya yang dipasarkan oleh pedagang bahkan ada yang mencapai nilai Rp 70 juta. “Harga itu diberikan kepada kambing dengan nama Luna yang terjual kepada pembeli dari Tulungagung” imbuhnya.

Oleh karena itulah, di desa Pagerpelah untuk usaha ternak kambing ini kalau yang pembibitan biasanya untuk kambing Peranakan Etawa. Sedangkan penggemukan biasanya kambing Jawa Randu.

Salah satu pola usaha ternak yang dilaksanakan di desa Pagerpelah atau yang pada umumnya dijalankan oleh para peternak adalah menyewa modal untuk membeli kambing dengan jalan hutang Bank atau lembaga pemberi pinjaman modal lainnya. Modal pinjaman tersebut kemudian dibelikan bibit anakan kambing Jawa Randu untuk dijadikan usaha pembesaran selama enam bulan.

Jatuh tempo hutang biasanya dibuat untuk enam bulan atau setengah bulan sekali. Untuk desa Pagerpelah saja, pinjaman modal dalam satu tahun untuk usaha penggemukan kambing ini mencapai angka cukup besar yaitu mencapai Rp 2.1 M. Sedangkan untuk usaha pembibitan Peranakan Etawa mencapai Rp 0,5 M. Ditambah kredit UKM maka total uang kredit yang ada di masyarakat mencapai Rp 2.785.000.000;- “ Untuk bayar bunga saja setahun mencapai 1,3 M” imbuhnya.

Menanggapai hal tersebut, Bupati Djasri merasa prihatin dan akan membawa permasalahan tersebut untuk dibahas di tingkat Pemerintahan Kabupaten. Menurutnya, usaha peternakan kambing ini ternyata mempunyai potensi putaran keuangan di dalamya yang cukup besar dengan keuntungan yang lumayan menjanjikan. “Sistem pembiayaannya ternyata sudah berjalan sendiri di tengah masyarakat, tinggal bagaimana Pemkab mensikapinya” katanya.

Oleh karena itu, Ia berharap setelah membawa masalah ini ke tingkat kabupaten dan membahasnya dengan dinas-dinas terkait, nantinya ditemukan formula yang tepat dalam hal pembiayaan pengembangan usaha ternak kambing ini yang lebih membantu petani. Sementara ini, lanjutnya, usulan dari Desa dan peternak sendiri adalah pembiayaan dengan system bagi hasil. “Usulan tersebut baik, namun sistem bagi hasil tersebut harus dijalankan secara professional” katanya.

Ia mengakui bila sistem bagi hasil atau maro, lanjutnya, secara budaya memang telah dikenal oleh masyarakat tani. Tinggal masalah kita adalah mengenai kesepakatan prosentase dan pertanggunggannya. Bila sistem ini dapat berjalan dengan baik dan mapan, lanjutnya, maka kita bisa berharap satu lagi alternative dalam mengupayakan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.”Bukankah cara ini juga merupakan upaya real kita dalam mengentaskan kemiskinan” katanya. (ekobr)

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 26 May 2011 05:51
 

Kuliner Khas Banjarnegara

leye soto  Kacang Jenang purwaceng dawet ayu
You are here