Kelompok Tani Penghijauan Giri Yuwono PDF Cetak Surel
Penilaian Pengguna: / 2
JelekBagus 
Ditulis oleh Admin2   
Sabtu, 08 September 2012 04:25

Penghijauan yang Berbuah Penghargaan Presiden

Semua berawal dari sebuah mimpi. Mimpi indah untuk memiliki lingkungan hijau yang segar dan nyaman serta air melimpah di saat musim kemarau, mengalir jernih dari celah-celah bukit hijau rindang sebagai sumber kehidupan, serta mimpi untuk bisa hidup makmur dan sejahtera. Bagi daerah lain, impian seperti itu mungkin merupakan hal yang mudah, namun  tidak dengan dusun Banaran, desa Duren, kecamatan Pagedongan. Tanah yang tandus dan gersang pada saat kemarau dan banjir serta longsor pada musim penghujan tiba, membuat kemiskinan menjadi sahabat bagi sebagian besar warga dusun Banaran. Pola bercocok tanam yang hanya mengandalkan tanaman singkong tak mampu mengangkat derajat hidup warga, bahkan semakin membuat tanah menjadi tandus dan gersang.

Di musim kemarau, warga kesulitan air bersih karena sedikitnya sumber mata air yang mampu bertahan. Akhirnya warga terpaksa naik turun bukit mencari sumber air yang tersisa. Keterbatasan air dan kemiskinan membuat kehidupan warga jauh dari standar kesehatan. Tak ada satu pun warga yang memiliki kakus, membuat warga menunaikan hajat di kebun dan sungai kecil yang ada. Hal ini mengakibatkan aroma tak sedap menyelimuti lingkungan dusun itu. Dan lagi, ketiadaan kamar mandi membuat warga harus mandi bersama-sama di sumber air yang tersisa.

Hal demikian sudah berlangsung sejak lama bahkan puluhan tahun yang lalu, sehingga kemiskinan dan ketertinggalan identik dengan masyarakat dusun ini, baik bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sosial budaya. Pendidikan yang rendah, kepedulian dan kesadaran masyarakat yang kurang ikut menghambat usaha-usaha perbaikan dan pelestarian lingkungan hidup.

Menghijaukan Bumi

Seiring perkembangan zaman, lambat laun masyarakat mulai berubah, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan mulai tumbuh. Mereka meyakini bahwa bumi bukanlah warisan tetapi titipan anak cucu, yang harus dijaga kelestariannya. Untuk itu, mereka membulatkan tekad agar kemiskinan yang membelenggu selama ini, harus diupayakan menjadi kemakmuran. Pendidikan yang rendah harus ditingkatkan sehingga tumbuh generasi-generasi  yang cerdas dan terampil. Derajat kesehatan juga  harus ditingkatkan sehingga masyarakat menjadi kuat dan tangguh. Kegiatan sosial harus sering digalakkan agar tumbuh manusia-manusia sosial yang memiliki jiwa kepedulian terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.   

Berangkat dari keprihatinan dan semangat perubahan itu, maka pada tanggal 3 Maret 2006 masyarakat Dusun Banaran Desa Duren Kecamatan Pagedongan membentuk sebuah kelompok tani yang diberi nama Kelompok Tani Penghijauan (KTP) Giri Yuwono. Tujuan jangka panjang dibentuknya kelompok tani ini adalah  terwujudnya masyarakat Banaran yang makmur aman dan sejahtera (Banaran MAS).

Menjalin Komunitas

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, KTP Giri Yuwono bekerja sama dengan pihak–pihak terkait, seperti Dinas Kehutanan dan Perkebunan, PKL (Penyuluh Kehutanan Lapangan) juga dengan pihak luar, seperti RPI (Rimba Partikel Indonesia) dan FKA ESQ. Agar tujuan dapat segera tercapai dan berjalan dengan baik, maka disusunlah lima program yang merupakan satu kesatuan yang bulat, satu sama lainnya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.

Kelima program tersebut adalah sebagai berikut :

Pertama, Lingkungan hidup. Kegiatan ini menitikberatkan pada kegiatan penghijauan untuk memperbaiki struktur tanah yang sudah rusak sehingga  dapat subur kembali.

Kedua, Pendidikan. Kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan formal maupun informal. Sehingga masyarakat memiliki ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang cukup agar mampu mentransfer informasi baik melalui media cetak maupun elektronik.

Ketiga, Kesehatan. Kegiatan yang dilakukan adalah penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, sehingga masyarakat sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pembuatan sarana sanitasi seperti MCK, pipanisasi air bersih dan plesterisasi jalan.

Keempat, Keagamaan. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter 165 melalui preview ESQ. Nilai-nilai yang dikembangkan adalah Tujuh Budi Utama (Jujur, Tanggung Jawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil, Peduli). Kegiatan lain yang dilakukan adalah penyelenggaraan TPQ, pengajian dan sholat berjamaah.

Kelima, Sosial Ekonomi. Program ini bertujuan untuk mengubah kebiasaan melakukan kegiatan konsumeris menjadi kegiatan produktif seperti pendirian koperasi. Kegiatan lain yang dilakukan adalah pembuatan pupuk  dan menanam sayuran organik.

Berbekal Tekad dan Komitmen

Untuk menggapai cita-cita terwujudnya masyarakat yang makmur, adil dan sejahtera, KTP Giri Yuwono membekali diri dan lingkungannya dengan tekad kuat dan komitmen tinggi untuk berubah.  Dan kini, enam tahun sudah berlalu dan perubahan pun sudah mulai tampak. Tanah yang dulu gundul dan gersang kini sudah mulai menghijau. Pendidikan dan kesehatan masyarakat terus meningkat. Kegiatan ekonomi dan sosial terus berkembang.

Diketuai oleh Noto Sutarno, kegiatan utama kelompok ini adalah mengolah hutan rakyat yang gundul dan gersang seluas 167.380 Ha di desa Duren, kecamatan Pagedongan. Jenis tanaman yang diusahakan adalah 314.658 batang pohon Acacia M, 59.136 batang Gamelina, 44.672 batang Eucalyptus, 23.006 batang Albasia, 8.433 batang Jati dan 3.859 batang Mahoni.

Wilayah KTP Giri Yuwono meliputi satu dusun yaitu dusun Banaran, yang masuk daerah administratif desa Duren, kecamatan Pagedongan, kabupaten Banjarnegara. Batas wilayahnya adalah sebelah utara berbatasan dengan desa Kebutuh Jurang, sebelah timur dengan jalan kabupaten dan desa Kebutuh Jurang, sebelah selatan dengan desa Giri Tirto, kabupaten Kebumen dan sebelah barat dengan Kadus IV Jolang. Sebagian besar wilayah desa merupakan daerah lereng pegunungan tandus dengan ketinggian 763 m dpl dan kemiringan 300 – 600.

Kelompok yang terbentuk atas gagasan masyarakat ini, beranggotakan masyarakat yang sedang mengalami kondisi krisis karena minimnya pendapatan, lahan tandus dan kekeringan yang melanda dusun. Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan yang tinggi, mereka pun bersatu membentuk suatu organisasi kemasyarakatan kelompok tani yang diberi nama Giri Yuwono.

“Gagasan pembentukan kelompok sudah muncul dalam kegiatan rutin “Yasinan” yang diadakan warga dusun Banaran. Karena kuatnya keinginan warga Banaran untuk segera keluar dari krisis maka warga bersepakat untuk membentuk kelompok tani. Pembentukan kelompok diawali dengan musyawarah warga dusun Banaran pada tanggal 3 Maret 2006 bertempat di SMPN 2 Satap Pagedongan Rt.1 Rw.3 yang dihadiri oleh 32 orang warga,” kata Noto Sutarno mengawali perbincangan.

Terorganisasi dan Tertib Administrasi

Agar kegiatan kelompok berjalan secara tertib dan terarah, KTP Giri Yuwono telah menyusun AD/ ART. Bahkan, keberadaan kelompok ini telah dilegitimasi dengan SK Kepala Desa Duren Nomor: 474/03/2006, SK Camat Pagedongan Nomor: 045/189/2012 dan SK Bupati Banjarnegara Nomor: 522/433 Tahun 2012.

Untuk mendukung berbagai kegiatan, KTP Giri Yuwono memiliki ruang sekretariat yang bertempat di rumah Surinto, warga RT.1 Rw.3. “Ruang sekretariat ini dilengkapi dengan meja administrasi, papan informasi dan dokumentasi, etalase buku, serta papan susunan pengurus. Sedang, pendanaan kelompok diperoleh dari iuran anggota dan sumbangan pihak lain yang tidak mengikat. Iuran anggota terdiri dari iuran pokok sebesar Rp. 50.000,- dan iuran bulanan sebesar Rp. 4.000,-. Selain itu anggota kelompok juga melaksanakan kegiatan menabung setiap pertemuan Yasinan (tiap malam Jum’at),” ujar Noto.

Pertemuan Rutin

Agar kegiatan kelompok berjalan lancar dan sesuai tujuan, kelompok ini mengadakan pertemuan rutin. “Pertemuan rutin ini merupakan sarana untuk saling memberikan informasi dan masukan dari para anggota, menyampaikan hasil dan perkembangan yang telah dicapai serta untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi kelompok,” kata Noto.

Pada awalnya, pertemuan rutin belum bisa berjalan dengan lancar, tetapi sejak 2008 pertemuan rutin dilaksanakan setiap bulan pada hari Kamis malam minggu pertama (awal bulan). Sejak 2011 setelah KTP Giri Yuwono mulai mengembangkan budi daya ternak kambing dengan pakan nutrisi (natural farming), pertemuan dilaksanakan dua kali sebulan. Karena kesadaran masyarakat yang tinggi akan manfaat pertemuan, kehadiran anggota dalam pertemuan mencapai lebih dari 85%. Selain penyampaian informasi kegiatan, pertemuan rutin juga diisi dengan kegiatan pengajian.

Ciptakan Usaha Produktif

Untuk meningkatkan partisipasi anggota kelompok, digagaslah beberapa usaha produktif antara lain hutan rakyat swadaya atau kemitraan (pohon acacia, gamelina, eucalyptus, jati, mahoni, albasia), ternak kambing , budi daya tanaman bawah tegakan (cabai, jahe, merica, ketela pohon, kapulaga, salak), ternak ayam kampung, pengembangan metode Natural Farming,  produksi gula merah dan budi daya tanaman dalam polybag. Kelompok ini juga membangun Kebun Bibit Desa untuk komoditas albasia dengan jumlah bibit ± 300.000 bibit.

“Pada awal tahun 2006 KTP Giri Yuwono hanya terdiri dari satu kelompok dengan jumlah anggota 32 orang. Seiring bertambahnya jumlah anggota menjadi 119 orang, maka untuk efektifitas kegiatan, di tahun 2010 bertambah menjadi empat kelompok berdasarkan wilayah RT yang dikoordinasikan oleh ketua RT masing-masing,” imbuh Noto.

Meningkatkan Pendapatan Masyarakat

Sebelum tahun 2006, warga Banaran sangat bergantung pada hasil panen singkong karena hampir semua tegalan hanya ditanami pohon singkong. Setelah kegiatan hutan rakyat, terutama sejak penanaman acacia, warga mulai beralih dari budi daya singkong ke budi daya tanaman bawah tegakan terutama cabai. Walaupun hasil penanaman hutan rakyat periode 2009 belum bisa di panen, pendapatan anggota tetap berjalan dari pemeliharaan ternak kambing, ternak ayam dan hasil penanaman cabe, jahe, merica, kapulaga serta singkong.

“Selain itu pendapatan anggota juga didapatkan dari panen kayu albasia yang telah besar. Dan dengan semakin hijaunya lahan, maka ketersediaan pakan ternak semakin melimpah, sehingga anggota bisa memelihara ternak lebih banyak. Setiap tahun jumlah ternak anggota bertambah sekitar 30%,” ujar Noto bangga.

Area Dampak Hutan

Kegiatan penanaman hutan rakyat berdampak pada ikut sertanya kelompok tani lain untuk mengembangkan Hutan Rakyat Kemitraan seluas ± 362 Ha yaitu: Kelompok Tani Mugi Jaya Dusun Kemputan, Desa Duren seluas 22 Ha, Kelompok Tani Sela Kencana Dusun Maron Desa Kebutuh Jurang seluas 100 Ha, Kelompok Tani Sida Mulya Desa kebutuh Jurang seluas 40 Ha, Kelompok Tani Sela Kencana Desa Kebutuh Jurang seluas 100 Ha, Kelompok Tani Sekar Arum Desa Twelagiri seluas 50 Ha dan Kelompok Tani Wana Maju Desa Gunung Jati seluas 50 Ha.

Hasil pembibitan albasia sekitar 300.000 batang telah ditanam pada area ± 167 Ha. Tetapi karena penebangan, saat ini jumlah tanaman albisia yang tersisa tinggal 23.006 batang. Mulai tahun 2009 sebagian besar lahan ditanami bibit acacia, gamelina dan eucalyptus dari PT RPI.

Peningkatan Kualitas Hidup

Seiring peningkatan kualitas hidup masyarakatnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan juga semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan tingkat pendidikan sebelum dan sesudah tahun 2006. Jumlah sumber air juga meningkat dari lima buah sebelum tahun 2006, setelah kegiatan penghijauan dilakukan bermunculan sumber air baru sejumlah 10 sumber. Selain itu sumur galian warga juga bisa mengeluarkan air dan bertahan cukup lama saat musim kemarau.

“Peningkatan tingkat ekonomi masyarakat juga cukup pesat jika dilihat dari kepemilikan sarana transportasi dan informasi. Selain itu kepemilikan ternak warga juga meningkat seiring meningkatnya ketersediaan hijauan.

Belum lagi soal kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, kalau dahulu orang sakit enggan pergi ke dokter karena ketiadaan biaya, sekarang sudah tidak lagi. Selain itu masyarakat juga bisa melunasi PBB tepat pada waktunya,” kata Noto.

Menginspirasi Kelompok Lain

Keberhasilan yang diraih KTP Giri Yuwono menginspirasi kelompok tani lain untuk mengadopsi usaha kelompok. Bentuk usaha kelompok yang diadopsi oleh kelompok lain diantaranya adalah :

Pertama, Penanaman acacia

Penanaman acacia diadopsi oleh Kelompok Tani Mugi Jaya Dusun Kemputan, Desa Duren, Kelompok Tani Sela Kencana Dusun Maron Desa Kebutuh Jurang, Kelompok Tani Sida Mulya Desa Kebutuh Jurang, Kelompok Tani Sela Kencana Desa Kebutuh Jurang, Kelompok Tani Sekar Arum Desa Twelagiri dan Kelompok Tani Wana Maju Desa Gunung Jati.

Kedua, Budi daya kambing. Budi daya kambing diadopsi oleh Kelompok Tani Mugi Jaya Dusun Kemputan, Desa Duren dan Kelompok Tani Sida Mulya Desa Kebutuh Jurang. 

Ketiga, Budi daya tanaman bawah tegakan komoditi salak.   

Diadopsi oleh Kelompok Tani Mugi Jaya Dusun Kemputan, Desa Duren.

Keempat, Pembuatan pupuk natural farming. Diadopsi oleh Kelompok Tani Sida Mulya Desa Kebutuh Jurang.

Juarai Lomba Penghijauan

KTP Giri Yuwono dalam perjalanannya telah melaksanakan banyak kegiatan baik dalam konservasi lahan maupun kegiatan lainnya. Terbukti hampir 80% lahan tegalan yang dulu gersang telah melaksanakan program Hutan Rakyat sehingga sekarang terlihat hijau. Atas prestasi itulah, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara memberikan penghargaan sebagai Juara I Kelompok Tani Penghijauan tahun 2012, dan mewakili Kabupaten Banjarnegara dalam Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam “Wana Lestari” tingkat Propinsi Jawa Tengah.

Dalam Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam “Wana Lestari” tingkat Propinsi Jawa Tengah Tahun 2012, Kelompok Tani Penghijauan Giri Yuwono berhasil mendapat penghargaan sebagai Juara I dan mewakili Provinsi Jawa Tengah dalam Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam “Wana Lestari” kategori Kelompok Tani Penghijauan tingkat Nasional. Di tingkat nasional pun, prestasinya sungguh membanggakan, Kelompok Tani Penghijauan Giri Yuwono berhasil menyabet Juara I dan menerima penghargaan dari Presiden RI yang diserahkan pada saat upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-67 di Istana Kepresidenan tanggal 17 Agustus 2012 lalu.

Desa Duren Kini

Kini, siapa tak betah berlama-lama di desa Duren yang hijau dan asri?  Tak ada lagi banjir dan longsor ketika musim penghujan tiba. Kesadaran masyarakat untuk hidup sehat pun meningkat drastis, sekarang hampir setiap rumah telah memiliki fasilitas MCK sendiri. Kebutuhan warga akan air bersih juga selalu bisa terpenuhi, karena sumber air bersihnya tetap bertahan di musim kemarau. Untuk menyalurkan air bersih ke rumah warga, terdapat lima penampungan air yang terus mengalirkan air bersih nan segar. [dhian]

Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 08 September 2012 04:27
 

Kuliner Khas Banjarnegara

leye soto  Kacang Jenang purwaceng dawet ayu
You are here