5 Perkara yang Mengurangi Pahala Puasa PDF Cetak Surel
Penilaian Pengguna: / 0
JelekBagus 
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 02 September 2010 21:09

(BANJARNEGARA) - Ada lima perkara yang dapat menyebabkan puasa kita tidak dapat diterima oleh Allah SWT. “Kelima perkara tersebut yaitu berbohong, ngegossip atau ngrasani, adu domba, sumpah bohong dan melepas pandangan dengan penuh nafsu” kata Gus Hakim, Dai pembawa materi tarawih keliling kabupaten di Masjid At Taqwa, Wujil, Bondolharjo, Punggelan, Selasa (31/08).

Kelima perkara tersebut, lanjutnya, dapat dijadikan ukuran apakah sesungguhnya puasa kita telah dikerjakan dengan baik atau justru sebaliknya.  Maka, berhati-hatilah dalam menjalankan puasa kita agar dapat diterima oleh Allah SWT. “Jangan sampai kita hanya dapat menahan lapar dan hausnya, tapi pahalanya terlewati” katanya.

Sementara itu, Tursin, Kades Bondolharjo, dalam kesempatan tersebut menyampaikan aspirasi kepada Sekda Syamsudin, S. Pd., M.Pd. dan jajarannya berkait dengan kondisi bangunan masjid baru yang belum sempurna. Pintu, daun pintu dan kaca jendela belum terpasang serta tempat wudhu belum dibangun. Ia berkisah, dari awal menerima pemberitahuan akan dijadikan lokasi Tarling, maka dipilihlah masjid At Taqwa yang tengah melakukan pembangunan. Hal ini agar Sekda beserta rombongan tersentuh. “Harapan saya, pihak kabupaten akan memberikan bantuan untuk mencukupi semua kekurangan tersebut” katanya.

Selain aspirasi tentang kekurangan anggaran untuk menyelesaikan masjid, Tursin juga melaporkan tentang rusaknya jalan yang menghubungkan Bondolharjo ke Binangun yang hampir putus. Ia secara langsung memintakan perhatian kepada Sekda dan Kepala DPU agar jalan tersebut untuk segera ditangani. Alasanya lokasi jalan yang berada di ketinggian sementara di bawahnya terletak lokasi pemukiman. “Jangan sampai setelah jalan tersebut longsor dan menimbulkan korban jiwa baru jalan diperbaiki” usulnya.

Sekda Syamsudin, S. Pd., M.Pd. menanggapi kedua aspirasi tersebut menyatakan bahwa tahun ini keuangan kabupaten terhitung sedang mepet. Tercantum dalam APBD besarnya adalah 760 M. Sebagian kecil diantaranya, yaitu kurang lebih sebesar 60,9 M merupakan Pendapatan Asli Daerah. Selebihnya merupakan bantuan dari pusat dan propinsi. “Anggaran tersebut diperuntukan untuk 20 kecamatan, 266 desa dan 12 kelurahan, serta 1 juta lebih penduduk Banjarnegara.” Katanya.

APBD sebesar itu kemudian dipecah untuk menangani berbagai urusan. Terhitung kurang lebih 62,5% diantaranya untuk penyelenggaraan pemerintahan dan selebihnya untuk belanja langsung.  Termasuk di dalamnya adalah 28 M untuk Alokasi Dana Desa (ADD) dan 16 M untuk Tunjangan Pendapatan Aparatur Perangkat Desa (TPPAD). Selain dari kedua post tersebut, desa juga berpeluang digelontorkan dana tambahan melalui program PNPM, Dana Aspirasi, dan program PPIP. “Desa kebanjiran dana, tinggal bagaimana memanfaatkannya untuk skala prioritas yang ada secara tepat sasaran, tepat waktu dan tepat mutu” katanya.

Karena itu, kata Syamsudin, masalah kekurangan kelengkapan bangunan masjid sebaiknya dibiayai melalui kelanjutan swadaya dana jamaah seperti yang telah berjalan. Terbukti, lanjutnya, masyarakat mampu membangun masjid, apalagi untuk bangun jendela, kaca karo lawang. “Masa ora bisa?” tanyanya.

Membangun masjid, lanjutnya, itu mengartikan kita sedang berpahala. Jamaah dan masyarakat sekitar sekarang ini juga tengah berebut pahala dengan berlomba-lomba untuk kebaikan dalam membangun masjid. Lha nek harus Pak Syam apa para pejabat kabupaten sing kudu ngrampungi apa ya ora melas karo masyarakat Bondol. “Apa ora rugi nek pahalane bangun masjid maring pak Syamsudin kabeh?” katanya disambut tawa jamaah.

Sedangkan untuk ruas jalan yang hampir putus, Syamsudin mempersilahkan kepada DPU untuk menindaklanjuti sesuai dengan skala prioritas kebutuhan dan kemampuan anggaran yang ada. (**--ekobr)

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 02 September 2010 21:11
 
You are here