PDRB 2010
PDRB 2010

PDRB 2010 (0)


Children categories

BAB.I Pendahuluan

BAB.I Pendahuluan (0)

PENDAPATAN REGIONAL KABUPATEN BANJARNEGARA

REGIONAL INCOME OF BANJARNEGARA REGENCY

2010


BAB I

PENDAHULUAN


A. Umum

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Banjarnegara disajikan secara series selama lima tahunan terakhir guna memberikan gambaran kinerja ekonomi makro dari tahun ke tahun. Indikator makro perekonomian Kabupaten Banjarnegara diharapkan dapat bermanfaat untuk berbagai kepentingan seperti untuk perencanaan, evaluasi, maupun kajian.

Kondisi perekonomian Kabupaten Banjarnegara secara umum menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banjarneagra pada tahun 2010 sebesar 4,98%, lebih kecil bila dibandingkan dengan tahun 2009 yaitu sebesar 5,11%.


B. Konsep dan Definisi

Penyajian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam publikasi ini merupakan output yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi dari suatu wilayah, baik berupa barang dan jasa dinilai dengan harga tahun 2010 dan pada tahun dasar 2000. Angka-angka yang disajikan akan selalu berkait dengan Produk Domestik Regional Bruto, Pendapatan Regional dan Pendapatan Per Kapita.

Sedangkan konsep dan definisinya seperti penjelasan dibawah ini :

1) Produk Domestik Regional Bruto

PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) adalah ukuran dasar kegiatan ekonomi yang merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (satu tahun).

Untuk menghitung Produk Domestik Bruto yang ditimbulkan dari suatu region, ada 3 pendekatan yang digunakan, yaitu :

a. Pendekatan produksi, adalah menghitung nilai tambah dari barang dan jasa yang diproduksi oleh seluruh kegiatan ekonomi dalam suatu wilayah, dengan cara mengurangkan biaya antara dari masing-masing total produksi bruto tiap-tiap kegiatan, sub sektor atau sektor dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut penyajiannya dikelompokkan menjadi 9 lapangan usaha (menurut KLUI) yaitu :

      1. Pertanian

      2. Pertambangan dan Penggalian

      3. Industri Pengolahan

      4. Listrik, Gas dan Air Minum

      5. Bangunan

      6. Perdagangan, Hotel dan Restoran

      7. Pengangkutan dan Komunikasi

      8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

      9. Jasa-jasa

      1. b. Pendekatan pendapatan, PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor- faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini, PDRB mencakup juga penyusutan dan pajak tak langsung neto. Jumlah semua komponen pendapatn ini per sektor disebut sebagai nilai tambah bruto sektoral. Oleh karena itu Prosuk Domestik Regional Bruto merupakan jumlah dari nilai tambah bruto seluruh sektor (lapangan usaha).

      2. Pendekatan Pengeluaran, PDRB adalah semua komponen permintaan akhir seperti :

        - Pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung

- Konsumsi pemerintah

- pembentukan modal tetap domestik bruto

- perubahan stok

- ekspor neto dalam jangka waktu tertentu (biasanya setahun). Ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor.

Dari ketiga pendekatan tersebut diatas, secara konsep seyogyanya jumlah pengeluaran tadi harus sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatn untuk faktor-faktor produksinya. Selanjutnya Produk Domestik Regional Bruto seperti yang telah diuraikan diatas disebut sebagai Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar, karena mencakup komponen pajak tidak langsung neto.


2) Produk Domestik Regional Neto

Produk Domestik Regional Neto merupakan Produk Domestik Regional Bruto dikurangi dengan seluruh penyusutan atas barang-barang modal tetap yang digunakan dalam proses produksi selama satu setahun.

3) Produk Domestik Regional Neto atas Dasar Biaya Faktor Produksi

Produk Domestik Regional Neto atas Dasar Faktor Produksi adalah Produk Domestik Regional Neto atas dasar harga pasar dikurangi dengan pajak tidak langsung neto. Pajak tidak langsung neto merupakan pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah dikurangi dengan subsidi pemerintah. Baik pajak tidak langsung maupun subsidi kedua-duanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang diproduksi atau dijual. Pajak tidak langsung bersifat menaikkan harga jual sedangkan subsidi sebaliknya.


4) Pendapatan Regional

Pendapatan regional adalah Produk Domestik Regional Neto atas dasar biaya faktor ditambah pendapatan neto dari luar wilayah. Pendapatan neto itu sendiri merupakan pendapatan atas faktor produksi (tenaga kerja dan modal) milik penduduk di suatu wilayah yang diterima dan dikurangi pendapatan yang dibawa keluar wilayah.


5) Angka-angka Per Kapita

Produk Domestik Regional Bruto per kapita dan Pendapatan regional per kapita; masing-masing merupakan Produk Domestik Regional Bruto dan Pendapatan Regional dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.


6) Cara Penyajian dan Angka Indeks

Agregat-agregat pendapatan seperti yang telah diuraikan diatas, secara seri dapat disajikan dalam dua bentuk yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan suatu tahun dasar.

a. Pada penyajian atas dasar harga berlaku, semua agregat pendapatan dinilai atas dasar harga yang berlaku pada masing-masing tahunnya, baik pada saat menilai produksi dan biaya antara maupun pada penilaian komponen nilai tambah dan komponen pengeluaran PDRB.

b. Pada penyajian atas dasar harga konstan suatu tahun dasar, semua agregat pendapatan dinilai atas dasar harga yang terjadi pada tahun dasar. Karena menggunakan harga tetap, maka perkembangan agregat pendapatan dari tahun ke tahun semata-mata karena perkembangan produksi riil dan bukan fluktuasi kenaikkan harga, atau yang sering disebut inflasi.


Agregat-agregat pendapatan juga disajikan dalam bentuk angka indeks perkembangan, laju pertumbuhan dan indeks harga implisit, yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Indeks perkembangan, diperoleh dengan membagi nilai-nilai pada masing-masing tahun dengan nilai pada tahun dasar, dikalikan 100. Indeks ini menunjukkan tingkat perkembangan agregat pendapatan dari tahun ke tahunnya terhadap tahun dasar.

b. Angka laju pertumbuhan, diperoleh dengan membagi nilai pada masing-masing tahun dengan nilai pada tahun sebelumnya dikalikan 100, kemudian dikurangi dengan 100. Angka ini menunjukkan tingkat pertumbuhan agregat pendapatan untuk masing-masing tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

      1. Indeks harga implisit, diperoleh dengan membagi nilai atas dasar harga berlaku dengan nilai atas dasar konstan untuk masing-masing tahunnya, dikalikan 100. Indeks ini menunjukkan tingkat perkembangan harga dari agregat pendapatan terhadap harga pada tahun dasar, Selanjutnya bila dari indeks harga implisit ini dibuatkan indeks berantainya, akan terlihat tingkat pertumbuhan harga setiap tahun terhadap tahun sebelumnya.


7) Pendapatan regional Atas Dasar Harga Konstan

Seperti telah diketahui bahwa angka-angka pendapatan regional atas harga dasar konstan adalah sangat penting untuk melihat pertumbuhan riil dari tahun ke tahun bagi setiap agregat ekonomi. Agregat ekonomi yang dimaksud adalah Produk Domestik Regional Bruto, nilai tambah sektoral, komponen penggunaan PDRB, dan pendapatan regional.


  1. Metode Dasar Untuk Penghitungan Pertumbuhan riil

Pertumbuhan riil dari agregat ekonomi diturunkan dengan cara menghilangkan pengaruh dari perubahan harga pada angka atas dasar harga konstan. Bila angka atas dasar harga konstan dari agregat-agregat ekonomi yang berbeda dinyatakan dalam harga tahun dasar yang sama, maka analisis perbandingan akan mungkin dapat dilakukan dan seluruh agregat tersebut bisa diturunkan dari komponen-komponennya.

Tiga metode dasar berikut adalah untuk merubah angka atas dasar harga berlaku menjadi angka atas dasar harga konstan. Metode-metode tersebut pada dasarnya dapat digunakan untuk seluruh komponen PDRB seperti permintaan akhir, output, input antara dan komponen pendapatan dari nilai tambah.

a. Revaluasi

Metode ini dilakukan dengan cara menilai produksi masing-masing tahun dengan menggunakan harga tahun dasar.

b. Ekstrapolasi

Metode ini dilakukan dengan cara memperbaharui (updating) nilai tahun dasar sesuai dengan indeks produksi atau tingkat pertumbuhan riil tahun sebelumnya.

c. Deflasi

Metode ini dilakukan dengan membagi nilai tambah atas dasar harga berlaku dengan indeks harga dari barang-barang yang bersangkutan. Indeks harga disini dapat berupa indeks harga perdagangan besar, produsen dan harga eceran, dan sebelumnya indeks harga tersebut tahun dasar harus sama dengan 100.

Perlu diperhatikan bahwa dalam kasus ekstrapolasi yang dihitung berdasarkan tingkat pertumbuhan riil dari tahun sebelumnya, maka tingkat pertumbuhan itu sendiri dapat dihitung dengan menggunakan revaluasi atau deflasi, Metode penghitungan yang sebenarnya bisa menggunakan kombinasi dari ketiga metode tersebut.


9) Pendekatan Untuk Menghitung Nilai Tambah Sektoral Atas Dasar Harga Konstan

Ada empat pendekatan untuk menghitung nilai tambah sektoral atas dasar harga konstan, tiga diantaranya didasarkan pada pendekatan produksi yang dipakai untuk penghitungan nilai tambah dan yang satunya didasarkan pada pendekatan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Deflasi Ganda

Deflasi ganda dilakukan apabila output atas dasar harga konstan dihitung secara terpisah dari input antara atas dasar harga konstan. Nilai tambah atas dasar harga konstan merupakan selisih antara output dan input antara harga konstan. Untuk menghitung output dan input antara atas dasar harga konstan itu dapat dipakai salah satu atau kombinasi dari tiga metode dasar untuk penghitungan pertumbuhan riil (revaluasi, ekstrapolasi, atau deflasi, lihat butir 3.1). Perlu diperhatikan bahwa istilah deflasi yang digunakan adalah dalam arti yang lebih luas.

b. Ekstrapolasi Langsung Terhadap Nilai Tambah

Ekstrapolasi dari nilai tambah sektoral dapat dilakukan dengan menggunakan perkiraan-perkiraan dari penghitungan output atas dasar harga konstan (yang didasarkan pada metode revaluasi, ekstrapolasi, atau deflasi, lihat butir 2.3.1) atau dapat secara langsung menggunakan indeks produksi yang sesuai, atau tingkat pertumbuhan riil dari output, input antara atau nilai tambah; kemudian dikalikan dengan nilai tambah sektoral tahun dasar. Secara implisit pendekatan ini dapat didasarkan pada asumsi bahwa output atas dasar harga konstan atas rasio input riil boleh dikatakan tetap. Asumsi itu akan cocok bila perubahan teknologi dari sektor yang bersangkuta relatif kecil. Dalam beberapa hal pendekatan ini akan lebih mudah bila digunakan dalam jangka waktu pendek.

c. Deflasi Langsung Terhadap Nilai Tambah

Deflasi dari nilai tambah sektoral dilakukan dengan menggunakan indeks harga implisit dari output atau secara langsung menggunakan indeks harga pruduksi yang sesuai, kemudian dijadikan angka pembagi terhadap nilai tambah sektoral atas dasar harga berlaku. Secara implisit pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa inflasi yang terjadi pada output dianggap sama dengan inflasi pada input antara.

d. Deflasi Komponen Pendapatan

Komponen-komponen pendapatan dari nilai tambah pada dasarnya erat kaitannya dengan tenaga kerja, modal dan manajemen. Karena khususnya keuntungan berkaitan dengan manajemen, maka perubahan kualitas tenaga kerja dan modal akan menimbulkan kesulitan dalam penghitungan. Pendekatan ini hanya digunakan untuk sektor-sektor dimana tiga pendekatan diatas tidak mungkin digunakan oleh karena data dasar atau indeks output yang sesuai tidak tersedia. Pendekatan ini akan lebih cocok bila nilai tambah terutama terdiri dari kompensasi tenaga kerja dan penyusutan.


10) Metode Penghitungan PDRB Kecamatan

Data pokok untuk menyusun PDRB didapat dari tiap-tiap kecamatan di Banjarnegara. Sedangkan angka PDRB Kecamatan didapat dengan metode alokator angka PDRB Kabupaten, sebagai alokatornya adalah variabel-variabel yang ada di Kecamatan. Alokator yang dipakai adalah :

- Sektor Pertanian menggunakan alokator produksi sektor tersebut disetiap kecamatannya, karena data yang lengkap untuk setiap kecamatannya hanya data produksi padi palawija yang digunakan untuk mengalokasikan sektor ini tentunya dengan memperhatikan komoditi tertentu yang paling dominan di kecamatan tertentu, untuk dimodidikasi untuk menambah NTB suatu kecamatan, misalnya produksi jamur di Kecamatan Batur NTBnya ditambah ke Kecamatan Batur.

- Sektor Pertambangan Penggalian menggunakan alokator produksi yang didapat dari data penunjang.

- Sektor Industri, khususnya Industri Besar Sedang NTB dari hasil Survei Industri Tahunan bisa dipakai, untuk industri kecil/rumahtangga dipakai alokator tenaga kerja yang didapat dari data penunjang.

- Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih. Dari alokasi data pelanggan, untuk kecamatan yang tidak ada data karena tidak ada cabang perusahaan digunakan pendekatan alokator penduduk.

- Sektor Konstruksi digunakan alokator, banyak proyek di tiap kecamatan disamping pula dengan alokator pertambahan rumah penduduk di tiap kecamatan.

- Sektor Perdagangan, Hotel dan restoran, untuk sub sektor perdagangan dan restoran dipakai alokator tenaga kerja di sektor ini, sedang sub sektor Hotel yang dipakai adalah tamu yang menginap di hotel di wilayah kecamatan dimaksud.

- Sektor Angkutan dan Komunikasi memakai alokasi banyaknya usaha angkutan tiap kecamatan, dan Komunikasi dengan alokator usaha wartel dan jumlah pelanggan telepon.

- Sektor Keuangan dan Perbankan, alokasi digunakan adalah banyak pendapatan subsektor perbankan, dan Perkiraan sewa Rumah di masing-masing kecamatan.

- Sektor Jasa-jasa, alokatornya adalah tenaga kerja untuk subsektor jasa-jasa sosial masyarakat di tiap kecamatan dan banyaknya karyawan menurut instansi di Kecamatan yang dimaksud.

 Sumber : Buku Pendapatan Regional Kabupaten banjarnegara 2010

                ( Bappeda Kabupaten banjarnegara dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara

View items...
BAB.II Gambaran Perekonomian

BAB.II Gambaran Perekonomian (0)

GAMBARAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BANJARNEGARA

TAHUN 2010


Kabupaten Banjarnegara sebagai salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Tengah merupakan daerah dengan pola perekonomian agraris, dimana sebagian besar masyarakatnya menyandarkan hidupnyadari sektor pertabian. Kondisi ini dapat dilihat dari tingginya kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan produk domestik regional bruto (PDRB). Pola seperti ini masih dominan kurun waktu lima tahun terakhir. Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2010 sebesar 38,2t persen dari total PDRB Kabupaten Banjarnegara memberikan dasar yang kuat untuk menyatakan kondisi tersebut.

Perkembangan perekonomian Kabupaten Banjarneagra kurun waktu lima tahun terakhir, menunjukkan perbaikan dari waktu ke waktu, dimana pertumbuhan selama kurun waktu tersebut masih berada pada posisi positif dengan perbesaran angkanya antara 3 sampai dengan 5 persen.

Perkembangan yang mendukung pertumbuhan perekonomian tersebut adalah sektor jasa-jasa kemudian ditambah dengan dukungan dari sektor pengangkutan dan komunikasi. Kedua sektor ini bukan merupakan sektor yang dominan dalam perekonomian Kabupaten Banjarnegara, akan tetapi tingginay perkembangan sektor ini terakumulasi dengan pertumbuhan dari sektor lainnya sehingga menambah besar tingkat pertumbuhan dari PDRB Kabupaten Banjarnegara.

Selain uraian diatas hal lain yang dapat dilihat dari penyusunan PDRB Kabupaten Banjarnegara tahun 2006-2010 ini adalah indikator pendapatan per kapita. Meski belum mencerminkan tingkat pemerataan, pendapatan per kapita dapat dijadikan salah satu indikator tingkat keberhasilan pembangunan perekonomian di suatu wilayah. Perkembangan pendapatan per kapita di Banjarnegara atas dasar harga berlaku, menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 mencapai 5.632.802 rupiah, pada tahun 2010 naik menjadi 6.219.087 rupiah.

Demikian juga pendapatan per kapita atas dasar harga konstan selalu mengalami kenaikan meskipun kenaikannya tidak sebesar harga berlaku. Dari 2.575.146 rupiah pada tahun 2009 menjadi 2.680.603 rupiah pada tahun 2010 atau meningkat 4,1%.


View items...
BAB III Uraian Sektoral

BAB III Uraian Sektoral (0)

URAIAN SEKTORAL

Uraian Sektoral yang disajikan dalam Bab III ini mencakup ruang lingkup dan definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, cara-cara penghitungan nilai tambah baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 2000, serta sumber datanya.

A. PERTANIAN

     1. Tanaman Bahan Makanan

    Subsektor ini mencakup komoditi tanaman bahan makanan seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedele, sayur-sayuran, buah-buahan. Kentang, kacang hijau, tanaman pangan lainnya, dan hasil-hasil produk ikutannya.

Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara pendekatan produksi yaitu mengalikan terlebih dahulu setiap jenis kuantum produksi dengan masing-masing hargannya; kemudian hasilnya dikurangi dengan biaya antara atas dasar harga berlaku pada setiap tahun. Sedangkan NTB atas dasar harga konstan tahun 2000 dihitung dengan cara revaluasi, yaitu mengalikan produksi masing-masing tahun dengan harga pada tahun 2000, kemudian dikurangkan lagi dengan biaya antara atas dasar harga konstan tahun 2000.

2. Tanaman Perkebunan

Komoditi yang dicakup disini adalah hasil tanaman perkebunan yang diusahakan seperti kelapa, kelapa deres. Kopi, kapuk, the, tembakau, cengkeh dan sebagainya, termasuk produk ikutannya. NTB atas dasar harga berlaku dihitung dengan cara pendekatan produksi. Sedangakan NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi, sama seperti yang dilakukan pada tanaman bahan makanan. Sebagai penyumbang pertumbuhan pada sub sektor perkebunan adalah komoditas kapuk randu dan kapulaga.

3. Peternakan dan hasil-hasilnya

Sub sektor ini mencakup produksi ternak besar, ternak kecil, unggas maupun hasil-hasil ternak, seperti sapi, kerbau, babi, kuda kambing, domba, telur dan susu segar. Produksi ternak diperkirakan sama dengan jumlah ternak yang dipotong ditambah perubahan stok populasi ternak dan ekspor ternak neto. pada tahun 2010 apabila dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya sebagai penyumbang nilai tambah adalah dari hasil produksi ternak, seperti susu, serta jenis ternak kecil, seperti domba dan kambing.

4. Kehutanan

Sub Sektor kehutanan mencakup tiga jenis kegiatan seperti penebangan kayu danpengambilan hasil hutan lainnya. Kegiatan penebangan kayu menghasilkan kayu gelondongan, kayu bakar,arang dan bambu; sedangkan hasil kegiatan pengambilan hasil hutan lainnya berupa kulit kayu,kopal dan sebagainya.

Sebagaimana dengan Sub sektor lainnya dalam sektor pertanian,output Sub sektor kehutanan dihitung dengan cara mengalikan produksi dengan harga masing-masing. Penggunaan harga yang berlaku pada masing-masing tahun menghasilkan output atas dasr harga berlaku dan pengguna harga pada tahun dasar menghasilkan output atas harga konstan 2000.

Pertumbuhan tertinggi pada Sub sektor kehutanan di Kabupaten Banjarnegara dihasilkan dari produksi getah damar.

5. Perikanan

Komoditi yang dicakup adalah semua hasil kegiatan perikanan di perairan umum,kolam,sawah dan karamba. Adapun mengenai cara perhitungan sama sepertio perhitungan yang dilakukan pada sub sektor-sub sektor lain pada sektor pertanian ini.

Pertumbuhan nilai tambah terdapat pada produksi ikan sungai dan waduk walaupun nilainya tidak begitu besar.

B. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

Sektor ini terdiri dari dua sub sektor yaitu sub sektor pertambangan yang meliputi pertambangan dan sub sektor penggalian. Output yang dihasilklan merupakan perkalian antara produksi dengan harga masing-masing kegiatan.

Sektor Petambangan dan panggilan yang berupa komoditas pasir,batu dan lainnya sangat erat kaitnya dengan proses berjalannya kontruksi,dengan meningkatnya proses pembangunan maka sangat berpengaruh terhadap bahan galian tersebut yang merupakan bahan baku utama.

C. INDUSTRI PENGOLAHAN

Sektor ini terdiri dari dua Sub sektor yaitu indusrti pengolahan non migas besar sedang dan indusrti pengolahan kecil kerajinan rumah tangga.Data NTB baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 2000 untuk masing-masing sub sektor dapat dilihat pada tabel 13.

Sektor industri yang menggunakan jumlah tenaga kerja sebagai indikator yang utama pada tahun 2010 mengalami pertumbuhan walaupun tidak begitu signifikan dimana pertumbuhan yang kebanyakan adalah pada industri rumah tangga atau industri kecil.

1. Industri Besar dan Sedang

Ruang lingkupdan metode penghitungan nilai tambah bruto industri besar dan sedang dalam PDRB ini didasarkan pada tenaga kerja yang bekerja di sektor indusrti.Untuk industri besar mempunyai batasan 100 orang keatas,dan industri sedang antara 20-99 orang.

Metode penghitungan yang ditempuh,adalah metode pendekatan produksi (production approach) yaitu dengan cara menilai produksi yang dihasilkan dari unit industri pengolahan dengan harga produsen yang terjadi. Biaya yang dikeluarkan untuk membentuk barang dan jasa biasanya disebut biaya antara (intermediate cost).

2. Industri Kecil dan Rumah Tangga

Angka output tahun 2000,diperoleh dari hasil pengolahan Industri Kecil dan rumah tangga yang dilakukan oleh BPS dari hasil pengolahan dan berkaitan dengan pergeseran tahun dasr maka angka tersebut dijadikan sebagai tahun dasar 2000.

Nilai tambah bruto baik industri kecil maupun rumah tangga dengan cara mengeluarkan biaya antara dari output yang dihasilkan ,dan selanjutnya bila penyusutan dikeluarkan dari nilia tambah bruto akan didapatkan nilai tambah neto.

E. BANGUNAN

Sektor Bangunan mencakup semua kegiatan pembangunan fisik kontruksi,baik berupa gedung,jalan,terminal,pelabuhan,dan irigasi,jaringan listrik,air,telepon dan sebagainya.pelaksanaan pembangunan dapat dilaksanakan oleh:

a. Pemborong/kontraktor domestik Banjarnegara

b. Pemborong/kontraktorasing

c. Pemborong/kontraktor luar Banjarnegara

d. Instansi Pemerintah baik pusat maupun daerah

e. Bukan pemborong dan atau oleh parorangan

Tetapi pada dasarnya pelaksanaan pembangunan dapat dikategorikan dalam 2 golongan yaitu kontraktor dan bukan kontraktor.

Seperti diuraikan di atas,bahwa pelaku pembangunan di bidang kontruksi adalah menganut konsep domestik,yang artinya bahwa kegiatan tersebut yang benar-benar dilakukan di kabupaten Banjarnegara,dengan melihat asal kontraktor.Ada kemungkinan kontraktor kabupaten Banjarnegara yang melakukan kegiatan di luar Banjarnegara,maka dalam hal ini tidak termasuk produk Kabupaten Banjarnegara.

Nilai tambah bruto didapat dari hasil perkalian suatu rasio dengan output tahun yang bersangkutan. Nilai tambah konstan 2000 diperoleh dengan cara menggunakan metode deflasi dan sebagai daeflatornya adalah IHK Umum (tabel 17).

F. PERDAGANGAN,HOTEL DAN RESTORAN

1.Perdagangan Besar dan Eceran

Penghitungan nilai tambah sub sektor perdagangan dilakukan dengan pendekatan arus barang yaitu dengan cara menghitung besarnya nilai komoditi pertanian,pertambangan dan penggalian,industri serta komoditi impor yang diperdagangkan.Dari nolai komoditi yang diperdagangkan ini diturunkan nilai margin yang merupakan output perdagangan yang selanjutnya dipakai untuk menghitung nilai tambahnya. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan mengalikan rasio-rasio diatas,dengan output atas dasar harga konstan 2000 dari sektor-sektor pertanian,pertambangan dan penggalian,industri dari import.

Dengan menggunakan metode pendekatan arus barang maka adanya peningkatan NTB pada sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pada tahun 2009 maka secara otomatis akan mempengaruhi besarnya sektor perdagangan.

2. Hotel

Sub sektor ini mencakup semua hotel,serta berbagai jenis penginapan lainnya serta losmen.Output dihitung dengan cara mengalikan jumlah malam kamar dengan tarifnya yang diperoleh dari hasil pengolahan Servis Hotel diBadan Pusat Statistik Kabupaten Banjaenegara Nilai tambah atas dasar harga barang dan konstan 2000 dihitung berdasarkan perkalian antara rasio nilai tambah dengan outputnya.

Banyaknya tamu yang menginap di Hotel maupun losmen yang ada di Banjarnegara mengalami peningkatan baik jumlah maupun rata-rata lama menginapnya dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Jumlah yang menginap pada tahun 2009 sebanyak 24.216 orang dengan rata-rata lama menginap selama 1,54 malam,sedangkan untuk tahun 2010 menjadi 23.464 orang dengan rata-rata lama menginap selama 1,84 malam.

3. Restoran/Rumah Makan

Data pendukung penghitungan nilai tambah sub sektor Restoran/Rumah Makan berdasarkan hasil data Pokok dan data penunjang Regional Incom yang dikumpulkan oleh BPS Kab.Banjarnegara. Dari laporan tersebut,kita dapatkan banyaknya tenaga kerja yang bekerja di sub sektor Restoran/Rumah Makan.NTB diperoleh dengan cara mengalikan rasio NTB terhadap output.Angka persentase tersebut diambil dari tabel I-O Indonesia 2000 yang di Update.

NTB aras dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan metode deflasi,dimana sebagai deflatornya adalah IHK Kelompok Makanan,Datanya tersaji dalam tabel 18

G. Angkutan Dan Komunikasi

Sektor ini mencakup kegiatan pengangkutan umum baik barang dan penumpang,termasuk jasa penunjang komunikasi dan jasa komunikasi,

1.Pengangkutan

a. Angkutan Jalan Raya

Sub sektor ini meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang yang dilakukan oleh perusahaan angkutan umum,baik bermotor,seperti;bis,truk bermotor,seperti;dokar,becak dan sebagainya.Perkiraan NTB atas dasar harga berlaku didasarkan pada data jumlah armada angkutan umum dan penumpang wajib uji.NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara deflasi,sedang indeks yang digunakan adalah indeks Harga Konsumen (IHK) transport.

b. Jasa Penumpang Angkutan

Meliputi kegiatan pemberian jasa dan penyediaan fasilitas yang sifatnya menunjang dan berkaitan dengan kegiatan pengangkutan,seperti terminal dan parkir,ekspedesi,bongkar muat,serta jasa penunjang lainnya.

Untuk terminal dan perpakiran mencakup kegiatan pemberian pelayanan dan pengaturan lalu lintas kendaraan/armada yang membongkar atau mengisi muatan,baik barang maupun penumpang.Penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan cara deflasi,sedang indeks yang digunakan adalah IHK sarana dan penunjang trasport.Pada tahun 2010 ada peningkata jimlah armada dibandingkan dengan tahun 2009 khususnya untuk yang berjenis plat nomor kuning dari 1.356 menjadi 1.762 armada.

2. Komunikasi

Kegiatan yang dicakup adalah jasa pos dan giro,dan telekomunikasi,Pada tahun 2009 sektor komunikasi juga mengalami peningkatan dari sub sektor pos dan giro khususnya untuk jenis surat kilat serta paket pos.sedangkan untuk sub sektor telekominikasi kenaikannya dapat dilihat dari peningkatan jumlah pelanggan jenis speedy,flexy juga untuk jenis warnet.

a. Pos dan Giro

Meliputi kegiatan pemberian jasa pos dan giro seperti pengiriman surat,wesel,paket,jasa,giro,jasa tabungan dan sebagainya.Perkiraan nilai tambah brutoatas dasar harga berlaku didasarkan pada data produksi dan struktur biaya yang diperolrh dari laporan Keuangan Perusahaan Umum Pos dan Giro di Jawa tengah khususnya Kab.Banjranegara.Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar konstan 2000 dilakukan dengan cara deflasi,menggunakan Indeks Harga Konsumen komunikasi dan pengiriman sebagai deflatornya.

b. Telekomunikasi

Mencakup kegiatan pemberian jasa dalam hal pemakaian hubungan telepon, telegrap,dan teleks. Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku di hitung berdasarkan data yang bersumber dari Laporan Tahun PT Telekomunikasi Cabang Banjarnegara. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara deflasi dan deflatornya adalah Indeks Harga Konsumen komunikasi & pengiriman.

c. Pegadaian

Data mengenai output pegadaian diperoleh dari seluruh Perum Pegadaian yang melakukan kegiatan usahanya di Kabupaten Banjarnegara. NTB ( Nilai Tambah Bruto) diperkirakan dari hasil perkalian rasio NTB terhadap output. NTB atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara deflasi, dengan deflator IHK jasa keuangan.

3. Sewa Bangunan

Mencakup semua kegiatan jasa atas penggunaan rumah /bangunan sebagai tempat tinggal oleh rumah tangga tanpa memperhatikan apakah rumah itu milik sendiri atau rumah yang di sewa. Dari hasil pengolahan data tersebut kita dapat NTB atas dasar harga berlaku. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 diperkirakan dengan cara revaluasi,yaitu mengalikan harga sewa rumah dengan jumlah rumah yang di sewakan tahun 2000. Indeks jumlah bangunan tempat tinggal sebagai ekstrapolatornya.

4. Jasa Perusahaan

Kegiatan Jsa Perusahaan yang dicakup meliputi: advokat, notaris, akuntan/pembukuan, konsultan, periklanan, persewaan alat pesta, dan jasa perusahaan lainnya. Perkiraan output di dasarkan dari tenaga kerja yang bersumber dari laporan data penunjang yang di buat oleh Badan Puast Statistik kabupaten Banjarnegara. Apabila biaya antara dikeluarkan dari output akan di dapat nilai tambah bruto. Penyajian data ada pada Tabel 20 di bawah ini.

I. SEKTOR JASA-JASA

Kegiatan sektor jasa-jasa meliputi: Pemerintahan dan Hankam, dan Jasa Swasta, sedangkan Jasa Swasta meliputi Jasa sosial Kemasyarakatan, Jasa Hiburan dan kebudayaan dan Jasa Perorangan & Rumah Tangga.

Pada sektor jasa-jasa khususnya dari subsektor pemerintahan dan hankam mengalami kenaikan sebagai salah satu indikatornya adalah naiknya anggaran belanja pegawai dari 385 milyar tahun 2008 menjadi 406 milyar tahun 2009, sedangkan untuk subsektor jasa swasta juga mengalami peningkatan sebagai salah satu indikatornya adalah peningkatan jumlah fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit dan lainnya. Selauin itu juga ada peningkatan untuk jenis jasa hiburan masyarakat. Hal ini dapat dilihat , salahsatu indikatornya adalah meningkatnya pendapatan dari beberapa lokasi tempat wisata yang ada di kabupaten Banjarnegara.

1. Pemerintahan dan Hankam

Nilai tambah sub sektor jasa pemerintahan dan hankam terhadap PDRB terdiri dari upah dan gaji rutin pegawai pemerintah pusat dan daerah, sipil dan TNI, serta perkiraan komponen upah dari belanja pembangunan. Penghitungan nilai tambah atas dasr harga konstan 2000, untuk PNS pusat dengan cara ekstapolasi, dan PNS daerah menggunakan metode deflasi.

2. Jasa Swata

Yang dimaksud sub sektor jasa swasta adalah seluruh kegiatan ekonomi jasa-jasa yanag dikelola oleh swasta , sedangkan yang dikelola pemerintah sudah cakup di Sub sektor Pemerintahan dan Hankam. Adapaun kegiatan yang dicakup sub sektor jasa swasta: Jasa Sosial dan Kemasyarakatan , Hiburan dan Rekreasi serta jasa Perorangan dan Rumah Tangga.

a. Jasa Sosial Kemasyarakatan

Mencakaup Jasa pendidikan, Jasa Kesehatan serta Jasa Kemasyarakatan lainnya seperti Jasa Palang Merah, Panti Asuhan, Panti Wreda, Yayasan Pemeliharaan Anak Cacat , rumah ibadah dan sebagainya, terbatas yang dikelola oleh pemerintah sudah termasuk dalam Sub sektor Pemerintahan.

- Jasa Pendidikan

Data yang digunakan untuk memperkirakan nilai tambah adalah jumlah murid sekolah swasta menurut jenjang pendidikan, data output permurid dan rasio nilai tambah serta IHK Kelompok Aneka Baranh & Jasa. Perhitungan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000, adalah dilakukan dengan cara deflasi dan sebagai deflatornya adalah IHK Kelompok Barang dan Jasa.

- Jasa Kesehatan

Mencakup Jasa Rumah Sakit , Dokter Praktek dan Jasa Kesehatan lainnya yang dikelola oleh swasta. Perkiraan output masing-masing kegiatan didasarkan pada hasil perkalian antara rata-rata output pertempat tidur rumah sakit dengan jumlah pasien di dokter praktek dan rata-rata output per bidan dengan jumlah bidan praktek.Nilai tambah bruto atas dasar haraga berlaku didasarkan pada rasio nilai tambah terhadap output.

- Jasa Sosial dan Kemasyarakatan Lainnya

Dari hasil suvei khusus terhadap panti asuhan dan panti wredha, diperoleh rata-rata output per anak yang di asuh dan rata-rata orang tua yang dilayani bersumber pada Dinas Sosial dan Data Penunjang Regional Incom yang dihasilkan dari data yang didapat oleh para Koordinator Statistik Kecamatan di tiap-tiap kecamatan se-Kabupaten Banjarnegara,diperoleh perkiraan output dan NTB atas dasar harga berlaku. Nilai tambah atas dasar harga konstan diperoleh denagan cara deflasi, sebagai deflatornya IHK umum.

b. Jasa Hiburan dan Kebudayaan

Subsektor ini mencakup kegiatan, studio radio swasta, panggung/taman hiburan, obyek wisata dan jasa hiburan lainnya. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan deflasi dan sebagai deflatornya IHK rekreasi. Untuk kegiatan studio radio swasta dan obyek wisata, perkiraan nilai tambah didasarkan pada jumlah tenaga kerja , dan rata-rata output per tenaga kerja. Sedangkan nilai tambah untuk tahun-tahunlainnya dihitung dengan menggunakan indikator pertumbuhan tenaga kerja dan IHK rekreasi.

c. Jasa Perorangan dan Rumah Tangga

Sub sektor ini mencakup jasa perbengkelan, reparasi, jasa peroranagn dan pembantu rumah tangga. Penghitungan nulai tambah atas dasar harga konstan 2000, diperoleh dengan cara deflasi,dan sebagai deflatornya IHK umum.Datanya tersaji dalam Tabel 21.

 

 


View items...
BAB IV . Gambaran PDRB Kecamatan

BAB IV . Gambaran PDRB Kecamatan (0)

GAMBARAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KECAMATAN

 

Kecamatan Banjarnegara memiliki kontribusi terbesar dalam PDRB Kabupaten Banjarnegara tahun 2010 yaitu sebesar Rp. 876,8 milyar (13,08%) dari total Rp 6.701,5 milyar atas dasar harga berlaku. Kecamatan yang memiliki kontribusi terbesar kedua adalah kecamatan Purworejo Klampok sebesar 10,73%, dan yang ketiga adalah Kecamatan Batur sebesar 8,14%. Faktor yang menyebabkan Kecamatan Banjarnegara memiliki Kontribusi terbesar karena faktor lokasi kecamatan ini merupakan ibu kota Kabupaten dimana terdapat berbagai fasilitas yang menunjang ke 9 sektor PDRB.

Kecamatan yang memiliki pertumbuhan terbesar adalah Kecamatan Bawang sebesar 6,80%, di ikuti Kecamatan Banjarnegara sebesar 6,71% dan Kecamatan Rakit sebesar 6,51%. Saedangkan yang memiliki pertumbuhan terkecil adalah Kecamatan Pandanarum yaitu sebesar 1,41%. Sektor yang mempengaruhi tingginya pertumbuhan dari ketiga kecamatan yang mempunyai urutan terbesar pada tingkat pertumbuhannya berbeda pada masing-masing kecamatan. Di Kecamatan Bawang sektor yang mempunyai kontribusi terbesar adalah sektor Jasa-jasa, Kecamatan Banjarnegara dan rakit adalah sektor Bank&Lembaga Keuangn Lainnya.

Data dan tabel PDRB KECAMATAN dapat dilihat pada tabel-tabel di halaman berikutnya.

 

TABEL 22.

PDRB KECAMATAN SE-KAB. BANJARNEGARA

ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2006-2010(JUTAAN RUPIAH)


 

KECAMATAN

2006

2007

2008

2009

2010*)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1.  SUSUKAN

169.473,77

187.134,01

206.753,34

227.486,55

251.762,12

2. PURWAREJA KLAMPOK

457.945,13

514.665,94

623.129,38

664.804,73

719.281,25

3. MANDIRAJA

232.306,39

264.505,62

306.578,58

372.645,24

411.167,12

4. PURWANEGARA

300.890,80

284.286,15

351.530,38

344.129,09

390.026,04

5. BAWANG

169.489,60

193.705,83

223.913,51

261.578,28

286.725,49

6. BANJARNEGARA

503.010,68

547.543,70

672.750,24

762.068,58

876.848,74

7. PAGEDONGAN

62.415,34

63.594,88

71.607,78

77.500,85

87.164,14

8. SIGALUH

145.379,93

191.364,63

216.942,38

227.168,38

250.861,72

9.MADUKARA

200.403,16

304.706,69

343.486,80

384.745,67

430.722,54

10. BANJARMANGU

111.949,57

194..576,50

227.548,78

248.813,76

276.070,12

11. WANADADI

128.957,17

138.386,06

158.068,84

162.990,09

185.195,37

12. RAKIT

147.284,90

163.407,17

188.995,18

195.780,19

221.916,46

13. PUNGGELAN

121.413,72

214.120,93

249.936,60

269.173,87

298.533,57

14. KARANGKOBAR

140.424,07

129.518,14

159.922,71

180.325,66

202.990,97

15. PAGENTAN

107.082,11

103,856,44

118.891,86

129.962,40

145.016,38

16. PEJAWARAN

303.555,33

414.294,52

471.648,06

497.844,63

543.266,09

17. BATUR

469.594,62

374.845,01

446.228,81

495.610,83

545.773,12

18. WANAYASA

193.434,12

22.646,02

256.539,84

265.539,84

265.446,20

19. KALIBENING

163.419,48

146.459,78

172.025,64

193.312,57

215.985,89

20. PANDANARUM

29.144,76

52.726,96

60.176,28

62.493,96

69.232,25

KABUPATEN

4.157.574,64

4.706.344,95

5.526.674,99

6.023.881,54

6.701.471,72

*)Angka sementara

 


 


View items...

Kuliner Khas Banjarnegara

leye soto  Kacang Jenang purwaceng dawet ayu
You are here