Festival Kota Lama, Upaya Lestarikan Warisan Tempo Dulu

 

Banjarnegara - Hari Sabtu dan Minggu, (14–15 September 2019) Festival Kota Lama (Feskola) kembali digelar di komplek perumahan tua bekas Kawedanan Purwareja Klampok. Gelaran unik ini dibuka oleh Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono, pada hari pertama. Diawali dengan prosesi naik andong bersama dari kompleks kecamatan Klampok menuju lokasi. Bupati Budhi Sarwono didampingi ketua sementara DPRD banjarnegara d.r Amalia Desiana, Sekda Drs. Indarto M.Si, Kepala Disparbud Dwi Suryanto, Camat dan Muspika Klampok naik andong diiringi parade sepeda tua.

Usai pembukaan, bupati dan rombongan menikmati aneka menu dan jajanan khas tempo dulu. Uniknya transaksi dilakukan dengan uang kuno.

Kuliner Pasar Kuna menyediakan aneka menu jadul. Pengunjung disarankan untuk terlebih dahulu menukar uang di Bank Javache, merupakan tiruan Bank jaman Kolonial yang berada di kompleks event.

Pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan Ngonthel sepeda Tua keliling Kota Lama bersama komunitas Sepeda Tua dari kota Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen dan Banjarnegara kemudian setelah sampai finish semua peserta sepeda Tua dan pengunjung mengikuti acara Tumplek Themlek  yaitu rayah Themlek (makanan tempo dulu yang telah ada sebelum agresi Belanda di Indonesia).

Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono menyambut baik kegiatan Feskola, untuk melestarikan warisan nenek jaman dulu. Menurut Bupati, wilayah Kecamatan Purwareja Klampok, pernah menjadi pusat perputaran ekonomi era Hindia Belanda. Bangunan-bangunan yang tersisa, menjadi saksi bisu masa kejayaan gula dan keramik. 

"Generasi masa kini selayaknya menghargai warisan tempo dulu, dengan begitu mereka bisa belajar, mengambil yang baik dan bermanfaat," kata Budhi.

"Klampok pernah menjadi pemukiman Bangsa Eropa lebih dari 100 tahun lalu. Jadi pada jaman itu kita sebenarnya sudah maju. Klampok punya pabrik minyak dan pabrik gula yang tersohor," imbuh Budhi.

Kepala Disparbud, Dwi Suryanto, menambahkan, panitia berusaha menghadirkan suasana Hindia Belanda pada arena Festival Kota Lama. Bekas perumahan Eropa yang kini menjelma jadi kantor BLKP dan rumah perorangan itu dikembalikan menjadi pemukiman Eropa bergaya klasik. 

"Acara ini mengusung tema serba zaman dulu, termasuk budaya dan makanannya," kata Dwi Suryanto.

"Wisatawan dibawa ke era kolonial. Puluhan bangunan berarsitektur Belanda masih berdiri gagah di sisi kanan kiri jalan," terangnya. 

Pada gelaran Feskola itu, puluhan stand kuliner berjejer di sepanjang jalan kompleks. Sementara pedagang berpakaian adat Jawa menjajakan berbagai makanan tradisional yang jarang ditemui di era sekarang. 

Feskola juga mengajak pengunjung bernostalgia ke sentra pabrik keramik Meandallai yang didirikan Kandar Atmomihardjo tahun 1946. Di halaman rumah ini, panitia mencoba mendemonstrasikan pembuatan keramik dengan cara tradisional atau teknik putar kepada pengunjung.

Acara ini dimeriahkan beberapa pentas kesenian yang unik Pentas teatrikal, Pocong Pari, Musik Keroncong Camelia. Feskola juga memberi kesempatan kepada pelajar dan generasi masa kini untuk mengikuti lomba busana lawas.

Bagi anak-anak juga disediakan arena permainan untuk bernostalgia dengan bermain Egrang, Dakon, Benthik, Sunda manda dan Slekdur.* (Muji Prast/Dinkominfo)

новинки кинематографа
Машинная вышивка, программа для вышивания, Разработка макета в вышивальной программе, Авторский дизайн